Jumat, November 24, 2017
Text Size

Search

Berita Nasional

Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

Juru Bicara Presiden Joko Widodo, Johan Budi Sapto Pribowo menegaskan, Presiden Jokowi sangat...

Sri Mulyani Bisa Bawa Ekonomi RI Jadi yang Terbaik

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu), Bambang Brodjonegoro berharap banyak...

Kronologi Eksekusi Mati Tahap III

Eksekusi mati tahap tiga sudah dilaksanakan di lapangan tembak Tunggal Panaluan, Nusakambangan,...

Kisruh SMS SBY dalam Perseteruan Demokrat-PPI

Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono meminta kadernya untuk mewaspadai manuver organisasi...

Century Masuk Babak Baru

Ketua dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad (tengah), Bambang...

  • Istana Merespons Aksi 313 Berhentikan Ahok

    Kamis, 30 Maret 2017 19:45
  • Sri Mulyani Bisa Bawa Ekonomi RI Jadi yang Terbaik

    Jumat, 29 Juli 2016 10:20
  • Kronologi Eksekusi Mati Tahap III

    Jumat, 29 Juli 2016 10:01
  • Kisruh SMS SBY dalam Perseteruan Demokrat-PPI

    Jumat, 25 Oktober 2013 15:28
  • Century Masuk Babak Baru

    Selasa, 20 November 2012 09:17
News Berita Nasional Dubes Slowakia Fasih Berbahasa Indonesia
SocialTwist Tell-a-Friend

Media Partner News

OkeZone.Com

Ads - World Friend

Dubes Slowakia Fasih Berbahasa Indonesia

Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 
Dubes Slowakia Fasih Berbahasa Indonesia

Duta Besar Slowakia Stefan Rozkopal yang memulai tugasnya secara resmi di Indonesia Agustus lalu banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam berbagai pertemuan dengan para pejabat Indonesia.

Dalam perbincangan dengan ANTARA News di Kedubes Slowakia, Jakarta, Jumat, Rozkopal mengatakan, ia belajar Bahasa Indonesia tahun 1985 ketika mulai kuliah di program kajian Asia Tenggara di Institut Hubungan Internasional, Moskow.

"Di kelas kami, ada enam murid yang belajar Bahasa Indonesia, di antaranya empat warga Rusia, saya dan warga Polandia," katanya.

Stefan Rozkopal mengaku merasa terkesan dengan pengajar Bahasa Indonesia saat itu, Ibu Ami Intoyo.

"Para murid selalu menyapanya Bu Guru. Ia orang dari Jawa Tengah dan sewaktu masih kecil ia tinggal di Keraton Yogyakarta dan ayahnya Prof. Intoyo, seorang penasehat pribadi Presiden Soekarno kala itu," tambahnya.

Menurut Dubes Slowakia itu, pada era 1980-an hanya ada tiga orang di Slowakia, termasuk dirinya yang mampu berbahasa Indonesia.

Ketika Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengadakan kunjungan kerja ke Slowakia pada April 1994, Rozkopal mengatakan ia diundang oleh Kedubes RI yang belum lama dibuka di Bratislava dan bertemu untuk kali pertama dengan Menlu Alatas pada resepsi negara.

Kunjungan Alatas itu terjadi setahun setelah Slowakia menjadi negara berdaulat. Cekoslowakia pisah dan menjadi dua negara (Republik Slowakia dan Republik Ceko) pada 1 Januari 1993.

"Pertemuan tersebut begitu mengesankan dan membekas hingga kini," ujar Rozkopal seraya menambahkan pada pertemuan itu ada orang Slowakia yang belum mengenal dan bertanya-tanya siapa dirinya karena saat itu dia masih berprofesi sebagai pengusaha di bidang ekspor-impor dan pariwisata belum bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Slowakia.

Konsul kehormatan

Ia juga mengatakan dirinya bertindak layaknya seperti "konsul kehormatan informal" untuk Indonesia karena sering mendampingi orang-orang Indonesia yang datang ke Slowakia.

Beberapa bulan setelah pertemuan dengan Menlu Alatas, ia bergabung dengan kementerian itu dan mulai bertugas di bagian urusan ASEAN.

Rozkopal merasa gembira karena dapat mengunjungi Indonesia dan bertugas sebagai diplomat senior sebagai wakil dubes Slowakia untuk Indonesia pada 1996-2000. Di antara masa tugasnya, Ny. Rozkopal melahirkan seorang puteri di Jakarta dan anak ketiganya itu kini berusia 11 tahun.

Ia pun kembali lagi ke Jakarta dengan menyandang jabatan baru sebagai Dubes Slowakia dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 31 Juli 2009.

"Setelah tiba di Jakarta, saya langsung pergi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata tempat Ali Alatas dimakamkan untuk memberikan penghormatan," ujarnya dengan suara agak terbata-bata.

"Sekali lagi saya ingin katakan bahwa saya tak melupakan pertemuan kali pertama saya dengan Pak Alatas yang telah mengubah nasib saya dan justru karena itu saya telah bisa jadi Dubes di Tanah Airku yang kedua - Indonesia," katanya.

Rozkopal mengatakan, kendati jarak kedua negara berjauhan, sebagai dubes dirinya bertekad meningkatkan hubungan dan kerja sama antara Slowakia dan Indonesia di berbagai bidang.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.25 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Advertisement Site




Ads - World Friend

Ads - World Friend

Berita lain-lainnya

Kegagalan Komodo menjadi Finalis New 7 Wonders
03/09/2011 | Indra Febria Widy
article thumbnail

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menarik mundur Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis dalam ajang pemilihan tujuh keajaiban alam baru atau "New Seven Wonder [ ... ]


Palestina Menuda Pemilu
26/11/2009 |
article thumbnail

Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan pemilihan presiden dan anggota parlemen Palestina yang menurut rencana diselenggarakan Januari akan ditunda dan menegaskan ia menerima saran untuk ti [ ... ]