Rabu, Juli 23, 2014
Text Size

Search

Info Indonesia Papua Barat
SocialTwist Tell-a-Friend

Papua Barat

Penilaian Pengunjung: / 15
KurangTerbaik 

Peta Provinsi Papua BaratKehutanan merupakan sektor non migas yang memberikan kontribusi ekonomi terbesar di Papua Barat. Luas hutan dan perairannya adalah 9.769.686,91 ha. Di sektor kehutanan, alokasi fungsi hutan terbagi atas hutan lindung seluas 1.819.267 ha, hutan suaka alam dan pelestarian alam seluas 1.885.323 ha hutan produksi terap seluas 1.435.640 hal hutan produksi terbatas seluas 1.046.529 ha, hutan yang dapat dikonversi seluas 2.500.432 ha dan hutan lainnya seluas 327.909 ha.

Sedangkan lahan non sawah di antaranya ladang/tegalan seluas 340.275 ha, perkebunan seluas 125.135 ha, permukiman seluas 121.403 ha, usaha lain seluas 332.688 ha, danau/telaga seluas 4.531 ha, dan ranah tandus/ranah rusak alias tidak diusahakan seluas 82.197 ha. Pada 2005, di provinsi ini beroperasi 25 perusahaan pemegang IUPHHK/HPH yang berlokasi di delapan kabupaten (Fakfak, Kaimana, Manokwari, Raja Ampat, Sorong, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, danTeluk Wondama) dengan dominasi lokasi operasi di Kabupaten Kaimana dan Teluk Bintuni. Total areal pengusahaan hutan (HPH) di provinsi ini pada 2005 seluas 3.545.400 ha. Di bidang Industri primer hasil hutan, di provinsi ini bergerak di perusahaan, Dari jumlah itu, tiga perusahaan beroperasi dengan skala di atas 6.000 m³/tahun dan dengan skala di bawah 6.000 m³/tahun sebanyak 15 perusahaan. Produk kayu olahan yang dihasilkan adalah chip wood, plywood, block board, dan sawmill.

Pada sektor pertanian, tahun 2006 tercatat luas areal panen 9.663 ha, jumlah produksi gabah kering giling 34.157 ton, produksi beras giling 32.497 ton, dengan demikian rata-rata produktivitasnya 3.368 ton/ha. Untuk komoditas jagung tahun 2006 tercatat luas areal panen 4.046 ha dengan jumlah produksi 5.052 ton dan rata-rata produksi 139 ton, Sedangkan untuk komoditas kedelai, pada 2006 tercatat luas areal panen 9.884 ha dengan jumlah produksi 11.811 ton dan rata-rata produksi 12 ton.

Di sektor perikanan dan kelautan, sejak 2005 tengah dibangun pangkalan pendaratan ikan (PPI) di Kabupaten Sorong,Teluk Wondama, dan Kabupaten Raja Ampat. Juga tengah dikembangkan perikanan budidaya seperti budidaya teripang di Kabupaten Teluk Wondama dan Fakfak; budidaya ikan terapu di Kabupaten Sorong; budidaya rimput laut di Kabupaten Raja Ampat; budidaya kepiting di Kabupaten Kaimana dan pengelolaan Terumbu Karang (Coremap II).

Produksi perikanan di provinsi ini berorientasiekspor, mencakup udang,  tuna/cakalang, pelagis, demersal, ikan campur dan hasil olahan. Daerah produksi perikanan laut di provinsi ini adalah Kota Sorong, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Fakfak, dan Kabupaten Raja Ampat. Nilai ekspor produksi perikanan tahun 2005 sebesar Rp 116.708.593.523,-.

Di sektor peternakan, pada 2006 tercatat populasi sapi potong berjumlah 29.126 ekor, jumlah pemotongan per tahun 30.167 ekor, produksi daging sapi 657 ton/tahun dan rata-rata kepemilikan 4 ekor. Ternak kecil berupa kambing dengan jumlah produksi 18.144 ekor dan jumlah populasi 100,98 ton/tahun dan babi sebanyak 35.977 ekor dengan jumlah produksi 571,96 ton/tahun. Lalu unggas meliputi ayam buras dengan jumlah populasi 534.845 ekor, ayam petelur sebanyak 367.243 ekor/tahun dengan jumlah produksi telur sebanyak 289,67 ton/tahun dan jumlah peternak 35.000 peternak serta rata-rata kepemilikan per peternak 10 ekor/kk, ayam ras pedaging sebanyak 465.765 ekor/tahun dengan jumlah produksi telor sebanyak 33.587 ton/tahun dan jumlah peternak 55.211 peternak serta rata-rata kepemilikan per peternak 80 ekor/kk, itik sebanyak 94.511 ekor/tahun dengan jumlah produksi telur sebanyak 23.251 ton/tahun dan jumlah peternak 409,33 butir/tahun serta rata-rata kepemilikan per peternak 4 ekor/kk.

Sementara itu untuk sektor perkebunan, komoditas unggulannya antara lain kelapa sawit, kakao, kelapa dalam, kopi, pala, cengkeh, jambu mete dan pinang. Selain potensi yang telah disebutkan di atas arah pemerintah Provinsi Papua Barat telah mencoba mengembangkan potensi pertambangannya melalui kebijakan umum bidang pertambangan dan energi dengan titik berat pada bidang minyak dan gas bumi, geologi dan sumber daya mineral, kelistrikan dan pemanfaatan energi serta bidang lingkungan hidup. Dalam tahun anggaran 2005, dilaksanakan beberapa kegiatan di bidang geologi dan air bawah tanah, pembinaan usaha pertambangan umum, serta prasarana kelistrikan dan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan energi.

 

Wisata alam juga menjadi salah satu andalan Papua Barat, seperti Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang berlokasi di kabupaten Teluk Wondama. Taman Nasional ini membentang dari timur Semenanjung Kwatisore sampai utara Pulau Rumberpon dengan panjang garis pantai 500 km, luas darat mencapai 68.200 ha, luas laut 1.385.300 ha dengan rincian 80.000 ha kawasan terumbu karang dan 12.400 ha lautan.

Disamping itu baru-baru ini, ditemukan sebuah gua yang diklaim sebagai gua terdalam di dunia oleh tim ekspedisi speologi Perancis di kawasan Pegunungan Lina, Kampung Irameba, Distrik Anggi, Kabupaten Manokwari. Gua ini diperkirakan mencapai kedalaman 2000 meter. Kawasan pegunungan di Papua Barat masih menyimpan misteri kekayaan alam yang perlu diungkap.

Papua Barat memiliki 24 suku dengan bahasa yang berbeda-beda antara suku yang satu dengan yang lainnya. Bahkan satu suku memiliki beberapa bahasa. Wilayah Papua Barat tidak identik dengan wilayah budaya masing-masing karena suku tersebut menyebar pada beberapa kabupaten. Suku Arfak mendiami pegunungan Arfak di kabupaten Manokwari hingga ke Bintuni. Suku Doteri merupakan suku migran dari pulau Numfor di wilayah pesisir kabupaten Wondama, bersama suku Kuri, Simuri, Irarutu, Sebyar, Moscona, Mairasi, Kambouw, Onim, Sekar, Maibrat, Tehit, Imeko, Moi, Tipin, Maya, dan Biak yang sedak dahulu merupakan suku mayoritas dan telah mendiami wilayah kepulauan Raja Ampat.

Penduduk asli Papua Barat bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani tradisional. Makanan asli penduduk Papua Barat adalah sagu, ubu-ubian dan nasi. Selain masyarakat asli papua barat, hidup berbaur suku-suku lain dari seluruh nusantara seperti Jawa, Bugis, Batak, Dayak, Manado, key, Tionghoa dan lainnya.

Kehidupan tradisional masyarakat asli Papua Barat masih dapat dijumpai di kampung-kampung tiap daerah dengan adanya kepala suku sebagai pimpinan. Masyarakat asli Papua Barat menganut mayoritas beragama Kristen protestan, Khatolik dan Islam. Wilayah Papua Barat merupakan tempat pekabaran Injil dan juga syiar Islam. Kehidupan primitif di tanah Papua Barat sudah hampir tidak dijumpai lagi. Rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kulit kayu, batang dan cabang-cabang pohon serta tali-tali rotan dan liana hutan sudah mulai diganti dengan konstruksi rumah semi permanen.

Sisa-sisa peradaban purbakala dapat dijumpai di daerah Fakfak dan Kaimana yang berupa lukisan purbakala bermotif telapak tangan manusia, motif tumbuhan, dan motif hewan yang dilukis di dinding-dinding pulau kerang dengan menggunakan pewarna alami yang hingga kini masih merupakan misteri.

Provinsi Irian Jaya Barat merupakan provinsi hasil pemekaran Provinsi Papua menurut letak geografisnya di sebelah utara berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Banda, sebelah barat berbatasan dengan Laut Seram dan sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Papua. Adapun Luas wilayah provinsi ini sekitar 115.363,50 Km² yang dihuni oleh 651.958 jiwa (tahun 2006) dengan rata-rata kepadatan penduduknya 6 jiwa per Km². Secara administratif, Irian Jaya Barat terbagi menjadi 8 (delapan) kabupaten dan 1 (satu) kota, yaitu Kabupaten Fak-Fak, Kaimana, Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Manokwari, Sorong Selatan, Sorong, Raja Ampat dan Kota Sorong dengan Manokwari sebagai ibukota provinsi.

Tahun 2005 tercatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Irian Jaya Barat berdasarkan harga konstan mencapai Rp. 5,3 triliun, dengan kontribusi terbesar dari sektor pertanian dengan Rp. 1,58 triliun atau sekitar 29,7% dari total PDRB, kemudian sektor pertambangan sebesar 1,1 triliun atau sekitar 20,7% dan sektor industri pengolahan sebesar 747,97 miliar atau sekitar 14,1% dari total PDRB. Perkembangan PDRB provinsi ini dapat dilihat pada Grafik di samping.

Provinsi Irian Jaya Barat memiliki beberapa komoditi unggulan untuk sektor pertanian meliputi ubi kayu, kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao dan padi. Disamping itu perikanan tangkap juga menjadi salah satu unggulan yang dimiliki oleh Provinsi Irian Jaya Barat. Untuk sub sektor perikanan tangkap, total kapasitas produksi pada tahun 2005 mencapai 87.672 ton.

Untuk menunjang kegiatan perekonomian, Provinsi Irian Jaya Barat memiliki sebuah kawasan industri yaitu Kawasan Industri Arar. Perekonomian di provinsi ini juga ditunjang oleh 21 (dua puluh satu) pelabuhan, antara lain Pelabuhan Fak-Fak, Bomberai, Kokas, Seget, Sailoto, Ransiki, Oransberi, Saukorem, Sorong I, Sorong II, Teminabuan, Inawatan, Bintuni, Babo, Kabare , Wasior, Windesi, Kaimana, Saunek, Fataniap, dan Waigama. Selain pelabuhan, provinsi ini juga memiliki 12 (dua belas) bandar udara antara lain Bandara Torea di Fak-Fak dengan panjang landasan 660 Km, Ijahabra di Sorong (500 Km), Rendani di Manokwari (1.850 Km), Kebar di Manokwari (990 Km), Jefman di Sorong (1.650 Km), Inanwatan (600 Km), Ayamasi (600 Km) Kambuaya (600 Km) di Sorong Selatan, Bintuni (650 Km), Babo (1.300 Km) di Teluk Bintuni, Waisor (600 Km) di Teluk Wondama dan Bandar Udara Utarom (1.600 Km) di Kaimana.

 

Berita lain-lainnya

Cuaca Ekstrem
21/02/2010 | World Friend Indonesia
article thumbnail

  adan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengingatkan potensi hujan deras yang disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah di Indonesia, akan terjad [ ... ]


Virus via Facebook
26/11/2009 |
article thumbnail

Pengguna Facebook dan MySpace harus hati-hati dalam menerima setiap informasi link dan aplikasi yang dikirimkan melalui pesan masuk dari teman Anda. Virus yang menjadi topik bahasan adalah jenis Koobf [ ... ]